Sabtu, 30 Mei 2015

Definisi Bidan

Pengertian definisi bidan dan falsafah kebidanan


PENGERTIAN FILOSOFI DAN DEFINISI BIDAN

Pengertian definisi bidan dan falsafah kebidanan
Definisi Bidan
1. Bidan dalam bahasa Inggris berasal dari kata MIDWIFE yang artinya Pendamping wanita, sedangkan dalam bahasa Sanksekerta “Wirdhan” yang artinya : Wanita Bijaksana 

2. Bidan merupakan profesi yang diakui secara nasional maupun internasional dengan sejumlah praktisi di seluruh dunia. Pengertian bidan dan bidang praktiknya secara internasional telah diakui oleh Internasional Confederation of Midwives ( ICM ) tahun 1972 dan Internasional Federation of International Gynaecologist and Obstetritian ( FIGO ) tahun 1973, WHO dan badan lainnya. Pada tahun 1990 pada pertemuan dewan di Kobe, ICM menyempurnakan definisi tersebut yang kemudian disahkan oleh FIGO ( 1991 ) dan WHO (1992).

3. MIDWIFE IS..
She is a person who, in partnership with women, is able to give the necessary support, evidence-based information and care during pregnancy, labour and postpartum period, to facilitate births in a one and one situation on her own responsibility and to provide care for the new-born and the infant. This care includes the promotion of well-being, the detection of complication in mother and child, the accessing of appropriate skilled assistence and the carrying out of emergency measures. She has important task in health counselling and education, not only for the women, but also with the family and in the public sphere. The work should involve antenatal education and preparation of parenthood and extends to areas of woman’s reproductive heal,family planning and childcare.
She may practice in any setting including the home, the community, birth centers, clinics, hospitals or in any other service.

4. Pengertian bidan adalah :
Seseorang yang telah menyelesaikan program Pendidikan Bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktik kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan dan masa pasca persalinan ( post partum period ), memimpin persalinan atas tanggung jawabnya sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak.

Asuhan ini termasuk tindakan preventif, pendeteksian kondisi abnormal pada ibu dan bayi, dan mengupayakan bantuan medis serta melakukan tindakan pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga medik lainnya. Dia mempunyai tugas penting dalam konsultasi dan pendidikan kesehatan, tidak hanya untuk wanita tersebut, tetapi juga termasuk keluarga dan komunitasnya. Pekerjaan itu termasuk pendidikan antenatal, dan persiapan untuk menjadi orang tua, dan meluas ke daerah tertentu dari ginekologi, keluarga berencana dan asuhan anak. Dia bisa berpraktik di rumah sakit, klinik, unit kesehatan, rumah perawatan atau tempat-tempat lainnya.

5. Pengertian Bidan Indonesia :
Dengan memperhatikan aspek sosial budaya dan kondisi masyarakat Indonesia, maka Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menetapkan bahwa bidan Indonesia adalah: seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan.

Falsafah Asuhan Kebidanan
Falsafah atau filsafat berasal dari bahasa arab yaitu
“ falsafa ” (timbangan) yang dapat diartikan pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya. (Harun Nasution, 1979)

Menurut bahasa Yunani “philosophy“berasal dari dua kata yaitu philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (hikmah, kebijkasanaan, pengetahuan, pengalaman praktis, intelegensi). Filsafat secara keseluruhan dapat diartikan “ cinta kebijaksanaan atau kebenaran.”

Falsafah kebidanan merupakan pandangan hidup atau penuntun bagi bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan. Falsafah kebidanan tersebut adalah : 
1. Profesi kebidanan secara nasional diakui dalam Undang – Undang maupun peraturan pemerintah Indonesia yang merupakan salah satu tenaga pelayanan kesehatan professional dan secara internasional diakui oleh International Confederation of Midwives (ICM), FIGO dan WHO.
2. Tugas, tanggungjawab dan kewenangan profesi bidan yang telah diatur dalam beberapa peraturan maupun keputusan menteri kesehatan ditujukan dalam rangka membantu program pemerintah bidang kesehatan khususnya ikut dalam rangka menurunkan AKI, AKP, KIA, Pelayanan ibu hamil, melahirkan, nifas yang aman dan KB.
3. Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan manusia dan perbedaan budaya. Setiap individu berhak untuk menentukan nasib sendiri, mendapat informasi yang cukup dan untuk berperan di segala aspek pemeliharaan kesehatannya.
4. Bidan meyakini bahwa menstruasi, kehamilan, persalinan dan menopause adalah proses fisiologi dan hanya sebagian kecil yang membutuhkan intervensi medic.
5. Persalinan adalah suatu proses yang alami, peristiwa normal, namun apabila tidak dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi abnormal.
6. Setiap individu berhak untuk dilahirkan secara sehat, untuk itu maka setiap wanita usia subur, ibu hamil, melahirkan dan bayinya berhak mendapat pelayanan yang berkualitas.
7. Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga yang membutuhkan persiapan mulai anak menginjak masa remaja.
8. Kesehatan ibu periode reproduksi dipengaruhi oleh perilaku ibu, lingkungan dan pelayanan kesehatan.
9. Intervensi kebidanan bersifat komprehensif mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
10. Manajemen kebidanan diselenggarakan atas dasar pemecahan masalah dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kebidanan yang professional dan interaksi social serta asas penelitian dan pengembangan yang dapat melandasi manajemen secara terpadu.
11. Proses kependidikan kebidanan sebagai upaya pengembangan kepribadian berlangsung sepanjang hidup manusia perlu dikembangkan dan diupayakan untuk berbagai strata masyarakat.

Pelayanan Kebidanan
Seluruh tugas yang menjadi tanggung jawab praktek profesi bidan dalam sistem pelayanan kesehatan yang bertujuan Meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan kesehatan dan masyarakat.

Praktek Kebidanan
Penerapan ilmu kebidanan dalam memberikan pelayanan / asuhan kebidanan kepada klien dengan pendekatan manajemen kebidanan

Asuhan Kebidanan
Penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan/masalah dalam bidang kesehatan ibu masa hamil,persalinan, nifas bayi stelah lahir serta KB.

Referensi
1. Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu, Jakarta, 2007
2. Sarwono P. Ilmu Kebidanan, Jakarta, 2007.
3. Estiwidani, Meilani, Widyasih, Widyastuti, Konsep Kebidanan. Yogyakarta, 2008.
4. Syofyan,Mustika,et all.50 Tahun IBI Bidan Menyongsong Masa Depan Cetakan ke-III Jakarta: PP IBI.2004
5. Depkes RI Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan. Konsep kebidanan,Jakarta.1995

Jumat, 29 Mei 2015

MENGAPA BANYAK WANITA LEBIH MEMILIH JASA BIDAN

Akademi Kebidanan malangwww.akademikebidanan.com - Dokter selalu menjadi pilihan pertama untuk proses persalinan. Namun, saat ini, lebih banyak wanita yang memilih menggunakan jasa bidan ketika kehamilannya telah memasuki minggu-minggu terakhir. Kenapa ya, Ladies?
Banyak wanita merasa bahwa menggunakan jasa bidan lebih tepat karena bidan memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam mengurus proses persalinan yang dilakukan secara natural. Perkembangan ilmu kedokteran membuat dokter harus mengikuti standar pengobatan tertentu, termasuk dalam proses persalinan. Obat-obatan serta prosedur-prosedur medis yang baru dan modern seringkali tidak cocok untuk mereka yang memilih untuk melakukan proses persalinan secara natural.
Selain itu, banyak ibu yang merasa bahwa pendekatan bidan lebih cocok dengan mereka. Bidan, menurut, webmd.com, memiliki pendekatan yang lebih alami dan personal dalam membantu proses persalinan. Selain itu, bidan juga bisa memberikan bantuannya semenjak ibu masih dalam trimester pertama dengan memberikan saran-saran dan masukan-masukan yang bisa dilakukan selama masa kehamilan.
Banyak ahli kesehatan menemukan bahwa mereka yang melakukan proses persalinan dengan bantuan bidan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengalami proses kehamilan yang bermasalah dan kemungkinan terjadi hal yang tidak diinginkan ketika proses persalinan berlangsung.
Memilih menggunakan jasa bidan memiliki keuntungannya sendiri lho, Ladies. Akan tetapi, ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ketika proses kehamilan berlangsung dan bantuan medis serta peralatan kesehatan yang lebih baik diperlukan, dokter tetap perlu menjadi salah satu sumber bantuan yang utama.

AKU BANGGA MENJADI MAHASISWI KEBIDANAN

Aku Bangga Menjadi MahasisWA


Salah satu nikmat yang paling aku syukuri adalah kesempatan yang TUHAN berikan kepadaku untuk menuntut ilmu sejauh ini. Menuntut ilmu hingga ke tingkat universitas dan menyandang predikat sebagai MAHAsiswa. Sebuah predikat tertinggi untuk siswa di dunia pendidikan.
Memang untuk saat ini menyandang status mahasiswa tidak lagi se”wah” dulu, mengingat jumlah orang yang melanjutkan ke perguruan tinggi sangat banyak. Berbeda ketika dahulu hanya segelintir orang saja yang beruntung dapat mengenyam pendidikan di dunia kampus. Status mahasiswa menjadi suatu kesakralan tersendiri.
Meskipun begitu, kita para mahasiswa tetaplah harus bersyukur. Tengoklah sekeliling kita, masih banyak orang-orang seusia kita yang terpaksa putus sekolah, harus bekerja, atau bahkan ada yang sudah menikah. Ya..setiap orang memang punya garis hidup masing-masing, dan aku percaya bahwa itulah yang terbaik yang telah diberikan Alloh untuk kita..dan sekali lagi kita harus sangat-sangat bersyukur telah digariskan untuk seperti ini.
Aku baru saja sadar, kenapa siswa-siswa perguruan tinggi disebut “MAHAsiswa”, kenapa julukannya sangat berbeda dengan siswa dijenjang pendidikan yang lain? Dahulu ketika TK disebut “siswa”, naik ke SD disebut “siswa”, naik ke tingkat SMP disebut “siswa”, ketika SMA pun juga masih “siswa”..kenapa setiap naik jenjang pendidikan-pendidikan tersebut tidak ada perubahan status? sementara selepas SMA naik ke jenjang universitas langsung berubah status? Apa mungkin karena usianya yang semakin tua sehingga didepannya diberi tambahan “MAHA” yang menunjukkan sesuatu yang besar, terhormat, dan berkedudukan?
Rupanya alasan untuk menunjukkan sesuatu yang besar, terhormat, dan berkedudukan memang benar tapi bukan karena faktor usia, tetapi lebih kepada faktor intelegensi yang dimiliki. Ya aku merasa setelah resmi menyandang status mahasiswa rasanya mengalami badai otak. Dimana cara berpikir dan jalan pikiran kita terbuka lebar atau bahkan berubah 180 derajat dibanding ketika SMA dulu. Pada masa ini rasanya cara berpikir kita dibentuk untuk lebih idealis, lebih kritis, lebih struktural, lebih berprinsip, berpikiran maju, serta memiliki visi dan misi . Aku juga mulai bisa menentukan jalan seperti apa yang aku pilih untuk hidupku, bagaimana aku harus bersikap terhadap sesuatu, dan pemikiran-pemikiran dewasa lainnya. Sungguh suatu perubahan sangat drastis yang aku rasakan di banding SMA dulu.
Aku percaya, perubahan ini tidak hanya aku rasakan sendiri. Aku yakin mahasiswa lain juga merasakan hal yang sama walaupun tidak seluruhnya. Mengapa aku berkeyakinan demikian? Setiap kali melihat status beberapa teman di Fb, saya kagum..berbeda sekali status mereka dibanding ketika mereka SMA dulu, bukankah status-status mereka ini menunjukkan tingkat pemikiran mereka?
Satu hal yang harus kita syukuri juga, karena kita menjadi mahasiswa di universitas umum, bukan kedinasan, politeknik atau semacamnya yang hanya berorientasi pada kemudahan mencari pekerjaan dan uang dengan adanya jaminan langsung bekerja setelah lulus dari univ tersebut. Bukan berarti kita yang kuliah di universitas umum tidak membutuhkan pekerjaan dan uang, tetapi lebih dari itu, di universitas umum cara berpikir kita dibuka lebih lebar, diarahkan untuk tidak hanya menjadi pekerja, pegawai, karyawan yang hanya digunakan untuk memperkaya diri sendiri. Tetapi kita dituntut untuk lebih mandiri, diarahkan untuk membuka lapangan pekerjaan bukan mencari pekerjaan atau menjadi pegawai. Kita pun dituntut untuk lebih peka terhadap banyak hal..kondisi sosial, ekonomi, politik, hukum, dan tak lupa agama. Ya kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri, bukan hanya untuk memenuhi ambisi dan nafsu pribadi, tetapi kita juga hidup untuk peduli dan berkontribusi untuk kemajuan dan kebaikan orang lain, lingkungan, bangsa, dunia, juga agama.
Aku tidak menyesal waktu itu “ngeyel” dengan ibu dan kakakku yang menginginkanku untuk mengambil kuliah di kebidanan. Bukan karena aku ingin durhaka kepada orang tua, tapi aku yakin jalan yang aku pilih ini lebih baik. Apalagi dasar ibu dan kakak saya menyuruh kuliah dikebidanan hanya karena sekarang bidan banyak dibutuhkan. Sehingga kemungkinan langsung bekerja dan diangkat menjadi pegawai lebih besar. Sementara cara berpikirku tidak demikian. Aku ingin berbuat lebih dari itu..bukan berarti aku menganggap remeh profesi bidan, saya tahu itu profesi mulia, tetapi saya lebih suka berkontribusi dengan pemikiran-pemikiran. Aku pun yakin apabila kuliah di kebidanan cara berpikirku tidak akan seperti ini.
Satu hal lagi yang menguatkanku untuk memilih jalan ini, setelah salat istikharah, aku diberi mimpi untuk kuliah di sini. Walaupun hingga hari ini aku tidak terlalu yakin itu jawaban yang diberikan Alloh untukku atau hanya bunga tidur semata. Wallohua’lam…
Walaupun nyatanya kuliah yang aku jalani ini juga menuntutku untuk menjadi birokrat..tetapi hingga detik ini sejujurnya saya tidak ingin menjadi birokrat. Saya ingin menjadi dosen, atau pengusaha. Biarlah ilmu yang saya dapat selama ini menjadi bekal saya untuk lebih peduli dan berbuat lebih kepada Negara yang telah memberi jasa kepadaku tak terhitung, atau menjadi orang yang terstruktur seperti prinsip administrasi. Dan kalaupun terpaksa menjadi birokrat, semoga menjadi birokrat yang tidak hanya mengejar profesi aman (read:pegawai negeri sipil dgn gaji tetap tanpa ancaman bangkrut dan di PHK), tetapi menjadi birokrat yang peduli kepada Negara, yang pengabdiannya tidak semata hanya untuk mencari uang tapi lebih karena ingin membangun Indonesia menjadi lebih baik..amin..semoga..
soal rizki, biarlah Alloh yang mengatur…tugas kita hanya berusaha dan berdoa.
Dan sekali lagi…I’m proud for being student university… :D

KULIAH KEBIDANAN

Kuliah Bidan

Kehamilan Adalah Anugerah, untuk itu harus diselamatkan, kehamilan merupakan jalan menuju generasi berikutnya, generasi harus lebih baik dari genarasi sebelumnya, generasi yang akan meneruskan, menyambung asa.
Maka selayaknya jika proses regenarasi tersebut direncanakan, dimonitoring oleh ahlinya, supaya proses tumbuh kembang generasi dapat seperti yang diinginkan.
Bidan adalah seseorang yang telah menempuh pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktek kebidanan. Ia harus mampu memberikan supervisi, asuhan, dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa kehamilan, persalinan, dan masa pascapersalinan, memimpin persalinan atas tanggung jawabnya sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak. Asuhan ini termasuk tindakan preventif, pendeteksian kondisi abnormal pada ibu dan bayi, dan mengupayakan bantuan medis serta melakukan tindakan pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga medis lainnya.
Sebagai salah satu profesi dalam bidang kesehatan, Bidan memiliki kewenangan untuk memberikan Pelayanan Kebidanan (Kesehatan Reproduksi) kepada perempuan remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, bersalin, nifas, masa interval, klimakterium, dan menopause, bayi baru lahir, anak balita dan prasekolah. Selain itu Bidan juga berwenang untuk memberikan Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Masyarakat.
Blog ini mencoba menjembatani bagi calon Bidan dalam mendapatkan referensi-referensi kebidanan, sehingga dapat menjadi tenaga kesehatan yang handal dan selalu mengabdikan keilmuannya untuk masyarakat.
Berat ya tugasnya?? yg penting buat para calon bidan, belajar yg tekun ya!! jgn terdengar paraji berkurang, AKI AKB masih tinggi. gara” bidan kurang tanggap ma masalah ibu hamil, bersalin, nifas, n BBL

KAMU HARUS BANGGA JADI BIDAN

Ini Alasan Kenapa Kamu Harus Bangga Jadi Bidan

Mungkin teman-teman sudah tau ya apa itu profesi bidan (atau malah kamu bidan?? hehe). Bahkan sebagian besar dari kamu mungkin lahir kedunia dengan sehat wal afiat berkat pertolongan seorang bidan. Dari obrolan dengan teman-teman Saya yang sekolah kebidanan, Saya jadi tahu ternyata banyak suka-dukanya sewaktu kuliah di kebidanan. Banyak juga yang jadi patah arah dan hilang semangat. Sampai-sampai muncul keinginan berhenti kuliah dan coba cari profesi lain. But wait, buat kamu-kamu yang sekarang sedang kuliah kebidanan dan merasa seperti itu, mungkin setelah membaca beberapa alasan ini kamu akan berubah pikiran.
1. Menjadi seorang bidan buat aura keibuan kamu lebih keluar
Dengan profesimu ini, kamu bakal sering berinteraksi dengan para ibu, dan itu akan membuat kamu lebih peka terhadap kebutuhan seorang ibu. Berada di lingkungan seperti itu secara tidak langsung membuat naluri keibuan menjadi semakin keluar. Diam-diam, secara sadar atau tidak, kamu akan mempersiapkan dirimu sendiri untuk menghadapai kondisi semacam itu suatu hari nanti. Teori-teori yang kamu dapatkan selama kuliah kebidanan juga semakin memberimu pemahaman bagaimana menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.
2. Kamu menjadi sosok yang lebih dewasa dan bertanggung jawab
Bidan mempunyai banyak tugas penting yang harus dikerjakan, seperti memberi nasehat selama masa hamil, masa persalinan dan masa nifas, memimpin persalinan, ataupun memberikan asuhan kepada bayi yang baru lahir. Dengan tugas-tugas seperti itu, yang tentu memerlukan ketelatenan ekstra, akan membuat kamu menjadi sosok yang dewasa. Keselamatan dan kesehatan ibu maupun bayinya yang menjadi tanggung jawabmu memaksa sifat manja kamu lambat laun menghilang. Sedikit demi sedikit, kamu akan berubah dari seorang gadis kecil yang manja menjadi seorang perempuan dewasa yang bertanggung jawab.
3. Menjadi seorang bidan membuat kamu semakin menghargai pengorbanan seorang ibu
Seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru yang terbaik. Interaksi yang intensif dengan para ibu dan calon ibu membuat kamu sadar bahwa menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan pengorbanan yang sangat besar yang dilakukan seorang ibu supaya anaknya dapat lahir dan tumbuh dengan baik. Sebuah kasih sayang yang ikhlas. Naluri keibuan seperti itu akan sering kamu lihat, dan akan selalu sukses menyentuh perasaanmu. (Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia).
4. Rutinitas sebagai bidan akan membuat kamu menjadi lebih disiplin dan teratur
Karena kamu bertugas layaknya seorang pengawas, kamu akan menjadi sosok yang teliti terhadap hal sekecil apapun. Mengingatkan seseorang untuk selalu menjaga pola aktivitasnya ataupun pola makanannya demi kesehatan kandungannya, juga berarti membiasakan diri kamu sendiri untuk hidup disiplin dan teratur. Keteraturan yang selalu kamu ingatkan (repetisi) kepada orang lain akan terekam di alam bawah sadarmu sendiri, sehingga kamu pun akan bertindak yang sama dengan seperti yang selal kamu sugestikan ke orang lain.
5. Profesi ini mendidik kamu menjadi seorang orang tua yang baik bagi anaknya
Bidan tidak hanya bertanggung jawab kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan dan asuhan anak. Tentu seorang bidan tidak akan kesulitan dalam mengasuh anak. Hal itu sudah menjadi “makanan” mereka sehari-hari. Lingkungan keluarga adalah lingkungan paling awal dan paling mempengaruhi perkembangan karakter seorang anak. Seorang ibu yang memiliki bekal cukup tentang pendidikan anak akan membantu perkembangan seorang anak menjadi lebih positif. Seorang ibu yang berprofesi sebagai bidan akan memiliki kepekaan yang lebih terhadap perkambangan anaknya.
6. Kamu akan terlihat sebagai sosok yang pintar
Sebagai salah satu orang yang sering memberikan saran kepada orang lain, kamu akan terlihat sebagai sosok yang pintar. Kamu mungkin akan sering dimintai saran oleh temanmu yang sedang menjalani kehamilan ataupun hal-hal lain berkaitan dengan hubungan berumah tangga. Apa yang kamu pelajari saat ini (sebagai seorang bidan) sebenarnya adalah hal yang sangat bermanfaat bagi lingkungan sekitarmu dan sangat berkaitan dengan keseharian mereka, terutama bagi yang telah berkeluarga. Kamu akan menjadi teman curhat yang baik bagi teman-temanmu.
7. Daan.. karena alasan-alasan itulah kamu bakal jadi sosok yang istriable di mata lelaki :)
Ya, apabila kamu laki-laki yang sedang mencari pasangan hidup, dan telah membaca baik-baik enam alasan diatas, mungkin kamu akan mulai berpikir untuk mendekati seorang bidan. Hehe. Kriteria-kriteria seorang istri idaman beberapa ada di diri seorang bidan. Bagaimana, semakin bangga menjadi bidan?? :) ;)

IBU BEKERJA BUKAN VS IRT

IBU BEKERJA bukan vs IBU RUMAH TANGGA

Ini merupakan tulisan yang sudah lama saya rencanakan, tapi tertunda terus karena berbagai kesibukan. Tulisan yang lahir karena saya miris dengan saling tuding-menuding. Ini paling baik, itu tidak! Padahal keduanya adalah pilihan.
Sebelum masuk ke hal yang lebih serius, mari sejenak bayangkan dunia ini tanpa ibu-ibu yang mau bekerja di sektor publik. Nggak ada dokter kandungan perempuan, yang ada laki-laki atau dokter yang masih gadis. Nggak ada ibu guru, yang ada pak guru atau bu guru yang masih muda-muda. Nggak ada pembantu rumah tangga perempuan (yang sekedar menyuci nyetrika lalu pulang), karena mereka rerata juga adalah ibu. Nggak ada pedagang perempuan, kecuali yang masih gadis-gadis seusia SPG-SPG itu. Nggak ada psikolog perempuan, konsulnya dengan bapak-bapak psikolog aja. Nggak ada bidan perempuan yang senior, melahirkan pun dengan bidan muda yang baru lulus, atau dokter SpOG yang laki-laki.
Ini memang ekstrim banget ya. Sampai ada yang gemes bilang ke saya, “Sekalian aja dibilang, andai tak ada laki-laki di dunia ini!“. Hoho. Tetapi, kadang, kita perlu berpikir ekstrim untuk melihat, bahwa harmoni kehidupan itu ada justru karena keragaman. Ada ibu yang bekerja, ada ibu yang tak bekerja. Tak ada siapa yang lebih baik dari siapa, kecuali siapa yang paling banyak amalnya. Masing-masing ada peluang dan ada ancamannya. Ibu bekerja relatif sedikit memiliki waktu dengan anak. Namun, ibu di rumah pun tak otomatis lebih baik, karena bisa jadi tidak bekerja di luar tetapi juga belum sepenuhnya perform dalam mengasuh anak, atau sibuk dengan hal lain, termasuk menjadi sosialita, atau bersosmed ria, meskipun di dalam rumah.
Jadi mari, saling bersinergi, bukan saling menghakimi :)
Gambar
Memang kadang terlihat bahwa rumput tetangga lebih hijau. Ibu bekerja (Working Mom, WM) tetaplah ibu, yang juga ingin selalu dekat dengan anak-anaknya. Namun kondisi tiap orang tak sama. Ibu di rumah (Full Time Mother, FTM) pun, juga adalah pilihan, yang kadang tak semua orang memiliki peluang. Dalam keseharian, ibu di rumah kadang juga menginginkan waktu yang tenang, ‘me time’ lebih banyak, tak melulu disibukkan urusan anak-anak. Ibu bekerja kadang iri pada ibu di rumah , ibu di rumah kadang iri pada ibu bekerja. Ini normal saja. tanda bahwa saling cinta :)
Pada tiap rumah tangga, banyak latar belakang yang melahirkan sebuah keputusan. Ada yang suaminya di-PHK, ada yang suaminya tiba-tiba invalid dan tak mampu bekerja. Ada juga ibu yang harus menyantuni dua orang tuanya yang makin renta, sedang penghasilan dari suami tak cukup untuk itu semua. Dan ada pula yang bekerja karena keberadaannya dibutuhkan oleh kaumnya, ibu-ibu dan anak-anak lain. Sepanjang semua bukan sekedar ‘asal bekerja’, berniat membantu sesama, bukankah itu mulia?
Sedang jenis pekerjaan yang lalu mampu dilakukan, tentu tak semua sesuai keinginan. Tak semua ibu bisa mendapatkan penghasilan dengan cara persis seperti apa yang diimpikan. Tapi demi membantu sesama, apa yang di depan mata, itulah cara Allah mengantarkan rizki padanya. Lha opo kantore/juragane mbahe, bisa milih kerjaan sakpenake dhewe? Lantas sepanjang itu halal, kenapa diperdebatkan?
Gambar
Ada kisah menarik yang ingin saya ceritakan. Tentang bu A, ART yang biasa bekerja di rumah saya setiap harinya lebih kurang 3 jam untuk mencuci, menyetrika & memasak; pekan lalu minta diri. Dia mendapatkan tawaran untuk bekerja full time di tetangga, tentu dengan gaji berlipat. Tawaran itu dia ambil, karena dia memikirkan keinginan anaknya yang sebentar lagi lulus SMA, ingin kuliah. Sementara dia berhitung dari penghasilannya dan penghasilan suaminya yang tukang bubur ayam, belum mencukupi untuk itu. Padahal saya tahu, fisik ibu ini sebenarnya agak lemah, sering sakit kalau kecapekan. Tapi dia nekad menerima tawaran itu, agar anaknya nanti bisa kuliah. Lalu, ART ini akan digantikan seorang ibu B, yang baru datang dari kampungnya di Jawa Tengah. Suaminya stroke, sedang anak-anak tetap butuh makan dan sekolah.
Jika bisa memilih, mungkin para ibu lebih senang untuk mengelola uang pemberian suami, dan mengelola sebuah usaha yg dapat dikelola dari rumah. Tetapi, kesempatan dan peluang tidak berlaku seragam pada tiap orang. Maka apa yang dilakukan ibu A dan B, juga banyak ibu bekerja lainnya, adalah justru wujud MENCINTAI anak-anaknya, wujud tanggung jawabnya pada keluarga.
Bekerja, adalah satu sarana mencintai anak-anak, dengan cara yang tak harus sama. Pahala tetap tercurah karenanya, sebagaimana ibu yang stay di rumah menemani anak-anaknya sepanjang waktu. Kecuali kalau ada ibu bekerja, karena hanya tak betah di rumah saja, hanya untuk pergaulan, atau gengsi semata. Nah yang seperti ini, biar Allah yang menghitung niatnya :)
Gambar
Lalu, jika memang memilih sebagai ibu bekerja, bersiap-siaplah untuk menjadi ibu yang tidak biasa. Berkurang jadwal tidur kita, juga perlu ketahanan fisik di atas rata-rata, serta mental baja. Salah satu sendi yang utama, tentu adalah keridhaan suami belahan jiwa. Jika kerja tanpa seizinnya, jatuhnya tetap dosa. Dibutuhkan komunikasi dan sinergi dengan suami yang sangat intens, agar ibu bekerja dapat menjalankan amanahnya di rumah maupun di tempat kerja dengan baik.
Saat ibu pulang kerja, bukan berarti saatnya melepas penat seharian. Karena sejak di pagar rumah pun, anak-anak berebut minta perhatian. Pun nanti saat suami datang, tetap harus disambut dengan senyuman. Ibu bekerja harus mampu memilih ‘tombol mental‘ yang pas sesuai kondisi dia berada, sektor domestikkah, atau sektor publikkah.
Seorang ibu bekerja, perlu memastikan bahwa sektor domestik bisa dikendalikan dengan baik, sebelum kakinya melangkah ke sektor publik. Jika sektor domestik belum mampu ditangani dengan baik, maka mungkin kita perlu memikirkan ulang, tentang jenis pekerjaan yang lebih mungkin kita lakukan. Karena jika memaksakan diri, ada pihak-pihak yang akan terzalimi, dan kedua sisi (domestik-publik) tidak berjalan optimal. Sedang idealnya adalah kita bisa fokus, optimal saat di rumah, juga optimal saat di tempat kerja. Bukan sebaliknya, di rumah memikirkan pekerjaan, di tempat kerja memikirkan rumah. Sa’atan wa sa’atan, masing-masing ada saatnya, dan itu perlu manajemen yang baik. Memang tak mudah, namun harus diasah. Jika memang sulit, maka tak perlu memaksakan diri. Kita masih bisa mencari peluang untuk tetap beraktivitas dan bekerja, tanpa perlu banyak meninggalkan rumah.
Gambar
Sekarang, saya ingin bahas ibu bekerja berkaitan dengan keselarasan antara sektor domestik (keluarga), sektor publik (pekerjaan) dan sektor langit (bekal agama). Jadi, ada tiga sektor yang harus kita dudukkan, mana yang lebih utama: sektor domestik, sektor publik, sektor langit. Maka, jika ada benturan diantara ketiganya yang tak bisa lagi disiasati, semoga kita tak salah memilih skala prioritas. Dua yang utama adalah sektor langit dan sektor domestik, sedangkan yang satu, sektor publik, sejatinya hanya pilihan, opsional, yang tidak boleh mengorbankan dua sektor sebelumnya.
Seorang ibu bekerja, harus final dulu pemahamannya tentang ini. Apalagi kalau dia memiliki tuntutan/kewajiban untuk berkiprah sebagai salah satu unsur penggerak dakwah. No excuse. Inilah yang saya maksudkan di atas, bahwa ibu bekerja perlu memiliki mental baja, jadwal rehat yang lebih sedikit dari rerata ibu biasa. Jika akhirnya sektor langit dan sektor domestik keteteran karena urusan sektor publik, sesungguhnya, kita belum terlalu siap mental untuk terjun di sektor publik.
Maka sungguh saya tak habis pikir, kalau ada ibu yang bekerja full time di luar rumah, lalu sabtu ahad pun tidak mau disibukkan dengan sektor langit dengan alasan, “Capek ah, saatnya istrahat“, atau “Maaf ya, tapi akhir pekan adalah family time bagi saya“. Lebih saya tidak habis pikir lagi, jika ada suami yang membolehkan istrinya bekerja setiap hari, tetapi justru melarang istrinya jika sabtu/ahad pergi berdakwah atau mengaji.
Mari kita berpikir sejenak. Bukankah ibu bekerja mau repot-repot keluar rumah untuk mencari ‘bekal’ yang secara ekonomis akan membantu biaya dalam keluarga? Memastikan bahwa pendidikan anak-anak terjamin, asupan gizi juga tercukupi, dan itu semua butuh uang, lalu seorang ibu memutuskan untuk membantu suaminya dengan bekerja juga.
Lalu, bukankah sektor langit juga sejatinya juga upaya mengumpulkan bekal, yang justru lebih abadi impact-nya dari sekedar bekal ekonomi? Jadi mestinya, justru karena kita sayang pada keluarga lah, dan tetap ingin terus bersama mereka meski nanti ajal memisahkan antar anggota keluarga, maka kita harus mengutamakan sektor langit. Karena dengan hanya mencari bekal untuk sektor langit lah, yang mampu memberikan jaminan bahwa keluarga ini akan tetap utuh meski secara jasad telah terpisahkan.
Nah, lalu kalau saking sibuknya dengan sektor publik, lalu sektor langit hanya menunggu sisa waktu luang, atau menunggu mood datang, barangkali saatnya kita untuk berhenti sejenak. Memikirkan ulang tentang hakikat kehidupan diri yang sejati: Apa yang sesungguhnya kita cari? Benarkah suasana seperti itu yang kita ingini?
‘Perhentian sejenak’ seperti ini memang perlu sering dilakukan, supaya naluri kita tak mati rasa, dan kita seolah-olah menjadi robot pekerja, yang tahu-tahu sudah tua dimakan usia. Sia-sia umur kita berbilang tahun, tanpa bekal yang berarti untuk keluarga. Padahal, niat awal kita bekerja, juga adalah demi cinta pada keluarga.
Gambar
Pada ibu bekerja, juga ada saatnya untuk ‘berubah pikiran’, mengkaji ulang, sesuai keadaan. Seorang teman kuliah saya, di suatu sekolah kedinasan yang tomboy pwol, setelah lulus bekerja dan berkeluarga bertahun-tahun, memilliki anak. Ternyata, salah satu anaknya terindikasi autis. Dia memutuskan untuk cuti di luar tanggungan negara selama 2 tahun untuk mendampingi anaknya itu yang tentu sangat membutuhkannya. Saat cuti 2 tahun habis dan anaknya masih sangat memerlukannya, maka dia memutuskan resign dari PNS. Sayangkah dengan karirnya di PNS? Padahal instansinya dikenal dengan remunerasinya yang ‘membikin cemburu banyak PNS’ lain? Tidak! Sektor domestik jauh lebih utama untuk didahulukan.
Ada juga cerita lain. Istri mantan bos suami, tampak begitu exciting saat saya membawa baby ke kantor suami. Dia banyak memberikan nasehat ini itu, tentang kesehatan bayi, dengan banyak istilah medis. Awalnya saya bingung, bukankah ibu ini FTM? Usut punya usut, ternyata beliau dulu adalah bidan. Tetapi karena suaminya seringkali dipindahtugaskan dan termasuk agak ‘rewel’ urusan makan (pagi-siang-malam menu makanan harus beda), maka dia memutuskan untuk resign dari bidan dan mendampingi suami kemanapun ditugaskan, termasuk pindah tugas ke beberapa negara.
Ini gambaran, bahwa pilihan seseorang bisa berubah menyesuaikan kondisi yang terjadi. Setinggi apapun capaian di sektor publik, kadang ada kondisi di mana ibu bekerja perlu melakukan evaluasi. Bisa karena dikaruniai ABK seperti teman saya itu, bisa juga faktor suami, atau faktor orang tua yang semakin renta. Bisa juga ada jenis pekerjaan yang lebih fleksibel. Evaluasi terus-menerus perlu diperlukan, agar langkah ibu bekerja tidak kebablasan. Karir bukanlah Tuhan yang harus diutamakan, saat sektor domestik atau sektor langit lebih membutuhkan.
Justru, jika kita memberatkan pekerjaan, barangkali perlu kita telisik lagi apa yang ada di hati: Benarkah aku bekerja karena mencintai keluargaku? Atau karena aku memiliki ambisi pribadi dalam pekerjaanku?
Gambar
Sebagai seorang muslimah, sebagai penutup tulisan ini saya juga ingin sedikit menulis tentang bagaimana kajian tentang ibu bekerja dalam fiqh. Sebelumnya saya harus mengaku dulu bahwa saya sama sekali bukan ahlinya. Tapi paling tidak kita bisa belajar dari beberapa kisah pendahulu. Salah satunya adalah kisah dari sahabat pemberani, putri dari sahabat terpercaya, Abu Bakar As-Shiddiq. Dialah Asma binti Abu Bakar. Dia bercerita, saat dia sudah menikah dengan salah satu mujahid gagah pujaan hatinya, “Ketika aku menikah dengan Zubair, ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. Akulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebut. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku.”
Artinya apa? Bahwa Asma kurang pandai memasak, seperti saya  #eh salah fokus :D
Maksudnya, bahwa Asma juga bekerja, bahkan hingga mencarikan rumput untuk ternaknya. Juga mengurusi kebun kurma, yang letaknya jauh dari rumahnya. Dan semua itu terjadi di zaman Rasul masih hidup, seperti yang dikisahkan oleh Asma, saat ia harus berjalan jauh berkilo-kilo dari kebun kurma menuju rumahnya, sambil membawa beban berat hasil panenan kurma, lalu bertemu rombongan Rasulullah di perjalanan. Rasul sempat menawarkan untuk menaiki salah satu onta di rombongannya, namun Asma menolaknya dan memilih tetap berjalan kaki, karena dia teringat dengan suaminya yang pencemburu. Sampai di rumah, ia berkisah pada suaminya “Tadi aku bertemu Rasulullah SAW ketika aku membawa kurma di atas kepalaku. Beliau disertai beberapa orang sahabat. Beliau menyuruh untanya duduk agar aku pergi bersamanya. Aku merasa malu dan teringat sifatmu yang pencemburu.
Zubair pun menanggapi cerita istrinya, “Demi Allah, keadaanmu membawa kurma di atas kepala lebih memberatkan hatiku dari pada kau naik unta bersama beliau.”
Maka bagi saya, Asma adalah perempuan pemberani yang perkasa. Bayangkan, berjalan kaki sekitar 3,4 km dengan menyunggi berkilo-kilo kurma di kepala! Dan dia bekerja dengan keikhlasan yang luar biasa, tidak main ‘nebeng kendaraan’ teman suaminya, meski ditawari.
Kita juga bisa belajar dari kisah perempuan agung istri Rasulullah yang pertama, Hadijah RA. Bukankah beliau seorang pengusaha perempuan yang sukses go international hingga akhir hayatnya? Yang lalu memberikan banyak harta, bahkan hampir seluruhnya, untuk dakwah suaminya? Kita juga bisa belajar dari Ummu Fadhoh, seorang perempuan paruh baya yang bekerja di rumah Fatimah binti Muhammad, istri Ali.
Artinya, pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh ibu rumah tangga semacam ini di luar rumahnya, wajar saja. Asal memang kita memenuhi aturannya secara syar’i. Apa saja itu? Terlalu panjang jika harus dikupas di sini, dan sudah banyak pula yang membahasnya. Silahkan gugling sendiri ya :)
Selain itu, ada juga kaidah tentang hasil dari pekerjaan seorang istri, ”Khusus masalah penghasilan istri yang bekerja, semuanya menjadi haknya. Suami tidak boleh mengambil harta itu sedikitpun, kecuali dengan kerelaan hati istrinya.” (Fatwa Islam, no. 126316) . Artinya apa dong? Ya artinya bahwa jika ada kajian tentang pengelolaan penghasilan istri, berarti bekerjanya pun bukan suatu larangan (dengan syarat tertentu). Analoginya begini. Maling itu tindakan yang jelas dilarang, haram. Maka tidak ada pembahasan khusus tentang duit hasil permalingan, yang memang sudah jelas-jelas haram, karena pekerjaanya pun memang haram.
Mungkin tulisan ini masih jauh dari sempurna, karena memang banyak sekali aspek-aspek yang harus kita bahas lagi. Silahkan jika ada yang ingin melengkapi baik di komentar atau postingan dengan topik yang sama. Spirit tulisan ini sekali lagi adalah agar kita mencoba saling memahami. Akan menjadi ibu yang bekerja di luar rumah (WM) atau menjadi ibu yang full dirumah (FTM), semuanya dikembalikan pada pilihan masing-masing, dan semuanya memiliki tanggung jawab yang tidak ringan.
Gambar
Sebagai penutup tulisan ini, ada baiknya kita menilik saling korespondensi yang begitu apik antara seorang ibu bekerja dan ibu rumah tangga, di sini. Sungguh, semangat yang perlu kita tiru untuk saling bersinergi, bukan menghakimi

INDAHNYA JADI BIDAN

Jadi Bidan Siapa Takut?Ini Pengalaman Bidan “Ngantor”

Banyak sahabat yang bertanya- tanya, saya ini sebenarnya berdomisili dimana sih? Banyak tempat dan bahasa daerah yang tahu meskipun sedikit- sedikit he he he. Itulah untungnya jadi bidan. Melayani banyak orang bermacam- macam  suku dan bahasa.  Kebetulan bidan seperti saya “Kantornya” pindah - pindah sesuai kebutuhan Yayasan Rumah sakit tempat bekerja.
Jika semua orang bercerita tentang meja kantor, saya cuma senyam-  senyum saja. Lha memang tidak bermeja. Maksudnya datang  bekerja tak pernah duduk manis di belakang meja kantor. Masuk ruang bersalin langsung kaki bergerak ke sana- kemari. Kalau sampai bu bidan duduk di balik meja, itu tanda berarti bu bidan pasienya sedang sepi he he he. Atau kemungkinan lain sedang memberikan konseling Keluarga Berencana atau  melayani posyandu dan duduk di antara meja 1 sampai meja lima.
Oya pernah  teman facebook ada yang bilang saya menulis kesehatan pasti bidan yang kerja di kantor, bisa online dan hanya teori melulu tidak pernah  lagi ke lapangan. Tidak apa hehehe… Asal tahu saja saya tiap hari juga kerja shift pagi, siang, malam dan beberapa kegiatan lain di luar tugas. Di Rumah sakit  khusus bertugas melayani pasien,  tidak menulis online.  Jadi jika libur tugas  dan bila ada waktu  baru saya usahakan menulis kesehatan di Kompasiana untuk berbagi.
Pernah membayangkan tempat  tugas bidan? Saya beri gambaran sedikit dulu. Bidan ada banyak peluang tempat bekerja, ada yang buka praktek sendiri atau disebut BPS ( Bidan Praktek Swasta ), ada yang bekerja di Rumah sakit, ada yang di bidang Pendidikan sebagai Dosen, ada yang bertugas di Dinas kesehatan dan instansi terkait yang memerlukan tenaga kebidananan.
Saya bekerja di Rumah Sakit  Swasta. Sudah berapa lama jadi bidan? Lumayan baru, ya kira kira baru 15 tahun dan sebelumnya saya adalah perawat selama 4 tahun. Lalu bertempat tugasnya dimana sebenarnya kog kadang di Malang, di Lombok, di Palembang , Surabaya? ini bidan asli atau aspal ? hehehehe
Bidan asli. Berijasah  resmi dan anggota dari Ikatan Bidan Indonesia. Nah kapan - kapan saya ceritakan apa itu Ikatan Bidan Indonesia. Tempat tugas, saya pernah di Sumatera selatan tepatnya di Palembang selama tiga tahun dan selebihnya di Jawa Timur dan sekitarnya lima belas tahun terakhir ini. Tugas di Nusa Tenggara Barat juga pernah. Konsekwensi saya sebagai karyawan Rumah Sakit Swasta kadang ditugaskan sewaktu - waktu ke tempat cabang. Seperti Tentara saya tidak boleh menolak  tugas dan malah senang .
Lho kog bisa? Bayangkan saja saya tidak pernah bercita - cita berekreasi ke pulau Lombok yang eksotis itu. Eh tiba - tiba saat saya sedang bertugas, direktur menelpon saat itu juga saya harus berkemas di kirim ke Lombok. Ternyata bidan yang tugas di sana sakit, sedangkan ada pasien mau melahirkan  anak ke tiga sudah pembukaan 4 cm.
Nah lho, akhirnya saya yang sudah terbiasa tugas mendadak ya langsung berangkat saja diantar ke Bandara Juanda. Sampai  bandara Selaparang, di sana sudah dijemput ambulan rumah sakit S.A di Karang Ujung Ampenan. Saya langsung segera mandi, ganti pakaian. Belum sempat minum teh, ealah pasiennya sudah mau melahirkan hehehehe. Malah datang beruntun tiga pasien baru datang mau melahirkan juga. Meskipun letih namun terhapus dengan nikmatnya sepiring plecing kangkung dan sate ikan di pantai Ampenan yang hanya berjarak 10 menit jalan kaki. Bisa juga ke Senggigi menikmati indahnya  hamparan pasir putih dan deburan ombak pantainya.
Banyak pengalaman seru di sana, oya pernah melayani pasien suku Sasak asli melahirkan di rumah sakit S.A dan sempat perdarahan. Waduh dirubung orang kampung kerabat mereka  yang antar hehehehe, untung selamat pasiennya. Lega deh. Ketika saya mau pulang ke Jawa dapat ucapan terimakasih  patung asli dari salah satu pasien suku Sasak dan berbagai oleh- oleh yang akkhirnya saya tinggal di asrama karena over bagasi hehehehe. Pernah juga menolong ibu melahirkan seorang guru di Mataram dan ari - arinya ( plasenta ) sulit lahir, bayinya prematur juga. Bidan hanya saya sendirian. Untung akhirnya ibu dan bayi selamat. Kekuatan saya bila sedang sendirian bertugas hanya doa, saya dan ilmu bukanlah apa - apa dibanding kekuasaan Tuhan.
Saya juga pernah tugas di Batu,Klinik M. R , tahun 2005. Pernah semalaman suntuk saya menolong melahirkan lima pasien. Tiba dini hari pukul 01:00 Wib, ada pasien baru lagi akan melahirkan.  Hamil anak pertama letak lintang dan saya lihat tangannya bekas infus semua. Kesimpulan saya  pasti pasien  ini minta pulang paksa dari rumah sakit. Saat saya periksa memang sudah jelas posisi bayi letak lintang, maka saya merayu pasiennya agar mau saya antar lagi ke Rumah sakit di Malang. Eh si pasien tetap nekad duduk ndeprok di kaki saya memohon - mohon jangan dikirim ke rumah sakit. Di sisi lain dilema bagi saya karena persalinan untuk bidan hanya boleh yang normal saja.
Saya sudah menjelaskan tentang seluruh resiko yang terjadi  pada persalinan dengan kelainan letak dan mengapa harus operasi Caesar. Tetapi dengan menangis dia tetap tidak mau, pokoknya mau tidur di Klinik kami semalam. Dia hanya punya uang Rp 600 ribu rupiah. Padahal biaya operasi sekitar 6 juta rupiah. Sebagai buruh Tani dia tidak punya biaya. Saya ijinkan menginap malam itu. Di kamar saya berdoa semoga ada mukjizat Tuhan untuk ibu miskin itu. Saya juga minta suaminya sembahyang dan berzikir. Keputusan akan kami bicarakan besok paginya. Ketika itu belum ada Jampersal.
Ketika  pagi- pagi saya periksa, ternyata  bayinya sudah posisi kepala kendati masih agak sedikit miring. Untungnya memang bayinya kecil, 2500 gram. Tanpa saya lakukan tindakan  apapun si bayi memutar sendiri. Mungkin si bayi tahu orangtuanya tidak mampu dan Tuhan menolong ibu itu. Saat itu saya tolong melahirkan dengan lancar. Ibu si pasien sampai menangis dan bersujud pada saya mengucapkan terimakasih. Saya bilang Tuhan yang menolong, saya hanya perantara saja.
Pernah juga pengalaman waktu tugas di Sumatera Selatan, sekitar tahun 1996 ada bayi letak sungsang tidak lahir - lahir sudah dua malam di Balai Pengobatan di Air Sugihan jalur 20. Akhirnya kami kirim dengan naik speed boat ke Palembang menuju rumah sakit Charitas. Belum sampai di dermaga bayi sudah nongol duluan, untungnya kami bawa perlengkapan menolong melahirkan.  Wah saya bersama senior berpikir, mungkin guncangan nombak sungai Musi ya yang membuat ibu itu melahirkan hehehe. Tetap posisi Sungsang sih, tapi ya syukur lancar. Padahal persalinan sungsang kadang bersiko macet juga.
Sekedar berbagi buat sahabat Kompasiana dan untuk yang sedang kuliah Bidan semangat ya! Jadi Bidan Siapa takut.